Minggu, 21 Juni 2015

HARGA POKOK PRODUK SAMPINGAN

PRODUK SAMPINGAN
            Produk sampingan umumnya didefinisikan sebagai produk dengan total nilai yang relatif kecil dan dihasilkan secara simultan atau bersamaan dengan suatu produk yang total nilainya lebih besar (produk utama). Contoh residu dan produk sampingan dalam industri perminyakan.
Karakteristik Produk Sampingan
1.      Dihasilkan bersama dengan produk utama dalam suatu proses atau serangkaian proses tanpa dimaksudkan untuk membuat produk ini.
2.      Nilai penjualan adalah relatif lebih kecil atau tidak berarti, bila dibandingkan dengan produk-produk utama.
3.      Dihasilkan dalam jumlah unit atau kuantitas yang lebih sedikit.
4.      Kadang-kadang memerlukan pengolahan lebih lanjut dan pembungkusan.
5.      Produk ini tidak dapat dihasilkan tanpa memproduksi produk-produk utama.

Metoda Menghitung Biaya Produk Sampingan

Biaya produk sampingan dan produk gabungan sebenarnya sulit dihitung karena biaya sesungguhnya tidak dapat dibagi. Maka metoda alokasi yang digunakan untuk menentukan biaya per unit bersifat sedikit arbitrer.

Ada dua kategori metoda menghitung biaya produk sampingan:
1.      Biaya produksi gabungan tidak dialokasikan ke produk sampingan. Ada dua metoda:
o   Pengakuan Pendapatan Kotor. Pendapatan dari penjualan produk sampingan dikreditkan ke pendapatan atau ke biaya produk utama (metoda 1).
Pendapatan kotor dari penjualan produk sampingan ditampilkan dalam laporan laba rugi sebagai salah satu kategori berikut:
1.      Pendapatan lain-lain
2.      Tambahan pendapatan penjualan
3.      Pengurang harga pokok penjualan dari produk utama
4.      Pengurang biaya produksi produk utama


o   Pengakuan Pendapatan Bersih. Biaya produk sampingan setelah titik pisah batas di-offset dengan pendapatan dari produk tersebut (metoda 2).
Pendapatan bersih dari produk sampingan (pendapatan penjualan produk sampingan dikurangi biaya administratif dan pemasaran untuk memasarkan produk sampingan, lalu dikurangi biaya proses lanjutan setelah titik pisah batas) ditampilkan dalam laporan laba rugi sebagai salah satu kategori seperti metoda 1.
2.      Sebagian biaya gabungan dialokasikan ke produk tersebut. Nilai persediaan didasarkan pada besarnya biaya gabungan yang dialokasikan ditambah biaya proses lanjutan setelah titik pisah batas.
Ada dua metoda:
o   Metoda biaya penggantian (disebut metoda 3).
            Metode ini biasa digunakan oleh perusahaan –perusahaan yang produk smpingannya digunakan ol eh perusahaan itu sendiri. Adanya produk sampingan menghilangkan kebutuhan untuk membeli bahan baku yang serupa dari pemasok.Biaya produksi dari produk utama dikreditkan, dan didebitnya diposting ke department yang
menggunakan produk sampingan tersebut.Jumlah yang diposting oleh ayat jurnal tersebut merupakan biaya pembelian atau biaya penggantiannya.

o   Metoda nilai pasar (disebut metoda 4).
            Metode ini merupakan metode yang sangat populer karena dengan
argmennya bahwa harga pasar dari produk merupakan manifestasi dari biaya yang
dikeluarkan untuk memproduksinya.. jadi, jika harga suatu produk lebih mahal dari
harga produk lain, maka biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi tersebut lebih
besar. namun menurut teori ekonomi, harga dalam ekonomi dengan pasar kompetitif
ditentukan berdasarkan kelangkaan dari barang yang diminta oleh pelanggan, bukan
berdasarkan harga relatif untuk memproduksi barang tersebut.

Argumen lain untuk menggunakan harga pasar guna mengahasilkan biaya gabungan adalah bahwa metode ini netral. Berarti, metode ini tidak mempengaruhi profitabilitas relatif dari produk gabungan.

Pilihan atas berbagai metode akuntansi cenderung untuk arbitrer saat proporsi produk gabungan yang menyusun bauran output tidak dapat brubah. Tetapi pilihan tersebut tidak akan arbitrer bila proporsi dapat bervariasi daN terdapat hubungan antara total biaya gabungan dengan total nilai output. Hal tersebut merupakan dukungan rasional yang kuat bagi metode harga pasar atau harga jual kita, untuk input tertentu ke proses produksi gabungan, memenuhi dua kondisi berikut: (1) bauran fisik dari output dapat diubah dengan mengeluarkan lebih banyak (atau lebih sedikit) biaya gabungan relatif terhadap biaya produksi lainnya, dan (2) jika perubahan tersebut menghasilkan total nilai pasar yang lebih besar (atau lebih kecil).
            Produk gabungan yang dapat dijual pada titi pisah-batas (sales values for the
products at the split-off point). Metode ini menggunakan total harga pasar dari setiap
produk, yaitu jumlah unit yang diproduksi dikalikandengan harga jual per unit.


CONTOH SOAL
PT”MANILA JATI” memproduksi tiga produk secara bersamaan. Biaya gabungan totalnya selama November adalah Rp. 40.000.000,-
Informasi produksi individual:

Produk Cumi
Produk Teripang
Produk Kerang
Unit produksi
Unit dijual
Harga jual per unit
Biaya pemrosesan setelah titik pisah-batas
15.000
13.000
Rp. 300
Rp. 750.000
10.000
9.800
Rp. 150
Rp.250.000
20.000
17.000
Rp. 250
Rp. 400.000
Diminta:
-      Hitung laba kotor tiap produk dan totalnya, dengan metoda alokasi harga pasar!
-      Bagaimana saran anda jika seorang pembeli menawarkan untuk membeli semua produk Kerang pada titik pisah-batas seharga Rp. 100 per unit?

Penyelesaian
Laba kotor tiap produk dan totalnya dengan metode alokasi harga pasar

 Jawaban:
Tabel 1.
Produk
(1)
Harga pasar final per unit
(2)
Biaya pemrosesan lebih lanjut (setelah titik pisah batas)
(3)
Cumi
Teripang
Kerang
300
150
250
750.000
250.000
400.000
Untuk memperoleh dasar alokasi, biaya pemrosesan lebih lanjut dikurangi dari harga pasar final untuk mendapatkan harga pasar hipotesis.
Tabel 2.
Produk
Harga pasar final per unit
Unit produksi
Harga pasar final
Biaya pemrosesan setelah titik pisah batas
Harga pasar hipotesis
Pembagian biaya produksi gabungan
Total biaya produksi
Persentase total biaya produksi
(1)
(2)
(3)
(4) = (2)x(3)
(5) = Tabel 3.
(6) = (4) – (5)
(7)
(8) = (5) + (7)
(9)= (8) / (4)
Cumi
Teripang
Kerang
300
150
200
15.000
10.000
20.000
4.500.000
1.500.000
4.000.000
750.000
250.000
400.000
3.750.000
1.250.000
3.600.000
17.437.500
5.822.500
16.740.000
18.187.500
6.072.500
17.140.000
404%
404%
428%
Total


10.000.000
1.400.000
8.600.000
40.000.000
41.400.000
1.236%

Ket: (kolom 7) Pembagian biaya produksi gabungan = (Rp. 40.000.000 / Rp. 8.600.000) x 100 % = 465 %
Misal:
A = 465 % x Rp. 3.750.000 = Rp. 17.437.500


Jika produk tertentu dapat dijual di titik pisah batas sementara yang lain tidak, maka harga pasar pada titik pisah batas digunakan untuk kelompok yang dapat dijual. Kelompok yang tidak dapat dijual menggunakan harga pasar hipotesis.
Laporan laba kotor berikut menggunakan jumlah unit terjual yang sama dengan ilustrasi sebelumnya, tapi harga jual telah dinaikkan karena pemrosesan lebih lanjut.
Tabel 3

Total
cumi
teripang
Kerang
Unit-penjualan
Persediaan akhir
39.800
 5.200
13.000
2.000
9.800
200
17.000
3.000
Penjualan (Rp)
2.170.000
3.900.000
1.960.000
2.550.000
Harga pokok penjualan(Rp)
Biaya produksi gabungan (Rp)
Biaya pemrosesan lebih lanjut

40.000.000
 1.400.000

17.437.500
   750.000

5.822.500
   250.000

16.740.000
    400.000
Total
41.400.000
18.187.500
6.072.500
17.140.000
Persediaan akhir (Rp)
5.117.450
2.425.000
121.450
2.571.000
Harga pokok penjualan (Rp)
36.282.550
15.762.500
5.951.050
14.569.000
Laba kotor (Rp)
       -  34.112.550
- 11.862.500
 -  3.991.050
-  12.019.000
Persentase laba kotor
157%
304%
204%
475%

Ket: Unit penjualan = unit yang terjual
Persediaan akhir = unit produksi (Tabel 1) – unit terjual
Penjualan (Rp) = unit yang terjual x hargapasar final per unit (Tabel 1)
Biaya produksi gabungan (Rp) = (Tabel 2 (7))
Biaya pemrosesan lebih lanjut = (Tabel 1(3))
Persediaan akhir (Rp)
= Total biaya produksi (Tabel 2 (8)) / unit produksi (Tabel 2 (3))) x unit persediaan akhir
Harga pokok penjualan = total Harga pokok penjualan (Rp) – persediaan akhir (Rp)
Laba kotor = penjualan (Rp) – harga pokok penjualan
Persentase laba kotor = laba kotor (Rp) / penjualan (Rp)
Laporan sering dibuat sedemikian rupa sehingga semua produk gabungan memiliki profitabilitas yang sama. Maka teknik nilai jual dimodifikasi menggunakan persentase laba kotor secara keseluruhan untuk menentukan laba kotor tiap produk.Dalam table berikut, laba kotor (157%) dikurangi dari nilai jual untuk menentukan total biaya. Total biaya kemudian dikurangi dengan biaya pemrosesan lebih lanjut tiap produk untuk menentukan alokasi biaya gabungan masing-masing produk gabungan.



Tabel  4

Total
cumi
teripang
Kerang
Harga jual final
Dikurangi laba kotor 157%
10.000.000
15.700.000
4.500.000
7.065.000
1.500.000
2.355.000
4.000.000
6.280.000
Total biaya
Biaya pemrosesan lebih lanjut
-5.700.000
1.400.000
-2.565.000
750.000
-855.000
250.000
           -2.280.000
400.000
Biaya produksi gabungan
-7.100.000
-3.315.000
-1.105.000
-2.680.000

Jika harga jual, persentase laba kotor, atau biaya pemrosesan lebih lanjut merupakan estimasi dan bukannya jumlah aktual, maka saldo yang berjudul “Biaya Gabungan” berfungsi sebagai dasar mengalokasikan biaya gabungan aktual.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar